Berawal dari Kegagalan

Posted by: tika.pratiwi10 in Academic No Comments »

Ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 1, sekitar bulan November 2007, ada pendaftaran untuk mengikuti seleksi OSN Kimia, Fisika, Biology, Matematika tingkat sekolah. Rasa tertarik untuk mengikuti seleksi itu terpikir dalam benak. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar seleksi OSN Kimia meskipun saat itu saya masih kelas 1 SMA, dengan harapan basa lolos 5 besar tingkat sekolah dan bias mewakili sekolah untuk seleksi di tingkat Kabupaten. Meskipun mata pelajaran Kimia baru saya dapat di SMA, tapi saya optimis lolos.

Setiap hari sepulang sekolah saya mengikuti pembinaan atau pelajaran kimia tambahan yang dibimbing oleh guru agar saya dapat lolos seleksi. Kegiatan pembinaan itu berlangsung sekitar 2 bulan. Setelah 2 bulan berlalu, pada awal bulan Februari 2008 seleksi OSN Kimia tingkat sekolah dilaksanakan. Ketika seleksi berlangsung, rasa optimis untuk lolos selalu menghinggapi pikiran. Seminggu setelah seleksi, hasil siapa saja yang lolos seleksi diumumkan. Hati saya berdebar-debar ketika hasil itu diumumkan, tapi kenyataan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, kegagalanlah yang saya terima. Tubuh saya seperti tertimpa batu yang amat besar, saya begitu kecewa dan sedih. Usaha dan doa saya tidak membuahkan hasil.

Saya sadar kegagalan bukan akhir dari segalanya. Saya berniat untuk mencoba mengikuti seleksi OSN Kimia di tahun berikutnya. Persiapan-persiapan yang saya lakukan tidak hanya satu bulan atau dua bulan seperti sebelumnya, tapi setelah mangetahui saya gagal. Mulai dari kegagalan itu, saya mempersiapkan materi dan mental dengan matang, dan disertai dengan doa.

Bulan November 2008 saya mendaftar seleksi OSN Kimia tingkat sekolah. Perasaan saya saat mengikuti seleksi yang kedua ini lebih siap dari yang sebelumnya. Awal bulan Februari 2009 seleksi tingkat sekolah itu berlangsung dan akhirnya saya lolos seleksi tingkat sekolah dan dapat mewakili sekolah untuk mengikuti seleksi OSN Kimia di tingkat Kabupaten pada bulan April.

Satu bulan menunggu hasil seleksi OSN Kimia tingkat Kabupaten, dan alhamdulillah saya mendapat peringkat V OSN Kimia tingkat Kabupaten. Meskipun saya tidak masuk di peringkat 3 besar dan tidak dapat mewakili sekolah lagi di tingkat Provinsi, tapi hasil itu sudah membuat saya senang. Saya berhasil meraih apa yang saya inginkan dengan semangat yang pantang menyerah dan disertai dengan doa.

Jangan menjadikan kegagalan sebagai “momok” yang ditakuti, tapi jadikan kegagalan sebagai pengalaman untuk bangkit menuju kesuksesan.

Abraham Lincoln

Posted by: tika.pratiwi10 in Academic No Comments »

“Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu..”

Abraham Lincoln, sebelum menjadi presiden sangat dimusuhi oleh Stanton. Tidak ada sebab yang jelas kenapa Stanton begitu membnci Lincoln. Beberapa orang mengatakan mungkin karena mereka saling bersaing dalam halpolitik dan dalam upaya menarik perhatian publik.

Kebencian Stanton ini makin menjadi-jadi saat Abraham Lincoln terpilih menjadi presiden Amerika. Pada awal-awal pemerintahan Lincoln, Stanton menyuarakan suara-suara tidak sedap kepada publik, dengan tujuan menjatuhkan wibawa Lincoln di hadapan rakyatnya.

Sebagai seorang presiden, sebenarnya sangat mudah bagi Lincoln untuk ‘merekayasa’ Stanton agar masuk penjara, atau sekedar ‘dihilangkan’ tanpa jejak. Tapi apa yang dilakukan Lincoln? Sebuah langkah mengejutkan dilakukan oleh Lincoln. Presiden ini memutuskan untuk mengangkat Stanton menjadi Menteri Pertahanan (Secreatry of War).

“Anda tidak sedng bergurau kan pak ? Stanton itu saingan politik anda, dalam setiap kesempatan ia selalu berusaha untuk menjatuhkan anda !” tanya asisten pribadi Lincoln.

Lincoln dengan tersenyum menjawab, “saya memilih orang bukan berdasarkan rasa suka atau benci, tetapi lebih karena kemampuan yang ia miliki, Stanton adalah orang yang sangat tepat untuk posisi itu.” Lincoln kemudian melanjutkan, “Dan lagi, dengan menjadikan kawan, bukankah justru di situ kita telah mengalahkan musuh ?”

Lincoln ternyata tidak salah, setelah beberapa waktu berlalu Stanton telah menjadi sahabat dekat, sekaligus menteri yang amat setia. Sampai suatu ketika Lincoln mati terbunuh, Stanton-lah yang paling merasa kehilangan, saat itu Stanton bukan hanya kehilangan seorang atasan, kematian Lincoln telah membuat Stanton merasakan kehilangan sosok yang telah ia anggap sebagai sahabat, guru, dan saudara. Komentarnya tentang kematian Lincoln di media, mengharukan siapa saja yang mendengar atau membacanya.

Permusuhan tidak dapat dilawan dengan permusuhan, kebencian bukan sebuah jawaban yang tepat bagi kebencian. Permusuhan hanya bias dilawan dengan kasih, sebagamana kegelapan hanya bias dilawan dengan terang, dan api hanya bias dipadamkan dengan air.

Cerita itu layaknya Rasulullah yang merubah Sayyidina Umar bin Khatab dari seorang lawan menjadi kawan dan bak untuk di contoh.